Palembang – HSBberita.com
Proyek pengeboran penambahan kapasitas jaringan air bersih milik PDAM di Jalan Sako Baru, RT 08 RW 04, Kelurahan Sako Baru, Kecamatan Sako, Kota Palembang, menjadi sorotan setelah muncul keluhan dari warga yang tinggal di sekitar lokasi pekerjaan.
Berdasarkan pantauan wartawan di lapangan, aktivitas pengeboran berlangsung di tengah kawasan permukiman. Saat peliputan dilakukan, juga tidak terlihat papan informasi proyek di lokasi pekerjaan.
Keluhan utama disampaikan Misnadi (47), warga yang akrab disapa Tutu dan rumahnya berada tepat di depan titik pengeboran. Ia mengaku perubahan kondisi air sumurnya mulai dirasakan setelah aktivitas pengeboran berlangsung.
“Pengeboran di depan rumah saya ini sudah tiga hari. Sebelum ada pengeboran, air sumur kami bening. Sekarang berubah menjadi keruh, bercampur lumpur, dan bau. Kami juga tidak tahu setelah pengeboran ini selesai apakah sumur kami masih layak dipakai atau tidak. Yang jelas saya minta ada pertanggungjawaban atas kondisi yang kami alami,” ujar Misnadi.
Selain persoalan air sumur, Misnadi juga mengeluhkan penanganan material lumpur hasil pengeboran. Menurutnya, lumpur sempat berserakan di jalan lingkungan hingga menyebabkan seorang warga terpeleset saat melintas.
“Masalah pembuangan lumpurnya juga kemarin bermasalah. Lumpur berserakan di jalan dan ada warga yang jatuh karena terpeleset. Kami berharap hal seperti ini tidak terulang lagi,” katanya.
Menurut keterangan Misnadi, selain rumahnya, sedikitnya tiga rumah lain di sekitar lokasi juga terdampak oleh aktivitas proyek pengeboran. Namun, bentuk dampak yang dialami masing-masing rumah belum dapat dipastikan dan masih memerlukan verifikasi serta pendataan lebih lanjut oleh pihak terkait.
Saat dimintai tanggapan, pihak perwakilan kontraktor menyatakan siap bertanggung jawab apabila pekerjaan yang dilaksanakan menimbulkan dampak terhadap masyarakat.
“Kami akan memperbaiki seluruh kerusakan yang timbul akibat pekerjaan ini, termasuk mengembalikan kondisi bekas galian seperti semula,” ujar perwakilan kontraktor kepada awak media melalui WhatsApp, Sabtu (11/6/2026).
Misnadi berharap dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan pekerjaan, termasuk penanganan atas keluhan yang telah disampaikannya. Ia juga meminta adanya kepastian mengenai kondisi air sumurnya setelah aktivitas pengeboran selesai agar tidak menimbulkan kekhawatiran bagi keluarganya.
“Kami hanya ingin ada kepastian. Kalau memang sumur kami terdampak, tolong dipulihkan seperti semula. Jangan sampai setelah proyek selesai kami yang harus menanggung akibatnya,” tegas Misnadi.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PDAM selaku pemilik proyek belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan warga, evaluasi terhadap pelaksanaan pekerjaan, maupun langkah penanganan yang akan dilakukan. Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi guna memenuhi prinsip keberimbangan.
Belum terdapat keterangan teknis dari instansi berwenang yang dapat memastikan hubungan sebab-akibat antara aktivitas pengeboran dengan perubahan kualitas air sumur yang dikeluhkan Misnadi. Oleh karena itu, informasi mengenai dampak tersebut masih menunggu hasil evaluasi serta penjelasan resmi dari pihak terkait.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena setiap proyek infrastruktur yang dilaksanakan di tengah kawasan permukiman tidak hanya dituntut selesai sesuai target, tetapi juga dituntut mampu mengantisipasi potensi dampak terhadap lingkungan dan masyarakat. Penanganan keluhan secara cepat, evaluasi yang objektif, serta keterbukaan informasi menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap pelaksanaan proyek untuk kepentingan umum.
Penulis : RQ
Editor : Redaksi HSBBerita.com
















