BANYUASIN, HSBBERITA.com — Rapat warga Desa Tebing Abang Kecamatan Rantau Bayur Kabupaten Banyuasin, Sabtu 2 Mei 2026, menghasilkan 4 keputusan bulat. Digelar di depan rumah Kepala Desa, rapat membahas dua agenda krusial: Program Optimalisasi Lahan Oplah dari Kementan dan rencana PT Rahmat Kelantan Sakti membangun kebun sawit di lahan tidur Dusun 1.
Rapat dibuka Kepala Dusun 1 Nopriadi. Hadir Kades Tebing Abang Nuhasim, perangkat desa, anggota BPD, tokoh masyarakat, dan puluhan warga.
Kades Tebing Abang Nuhasim menjelaskan Program Oplah akan dipusatkan dari Dusun 1 sampai Dusun 3. “Harapan saya masalah ini menemukan kesepakatan. Yang ada lahan dulu, jadi harus kompak jangan sampai ribut,” kata Nuhasim.
Namun Nuhasim membuat pengakuan mengejutkan. “Kemarin saya dipanggil Bapak Bupati Banyuasin H Askolani. Ia memerintahkan saya untuk memfasilitasi perusahaan kelapa sawit PT RKS untuk membangun kebun kelapa sawit atau kelapa di lahan tidur Dusun 1 Desa Tebing Abang,” ungkapnya.
“Katanya berkoordinasi lah sama Pak H. Arkoni, MD. Jelas H. Askolani pada saya,” tambah Nuhasim.
LIRA: Tolak PT RKS, Ada Mafia Tanah Halangi Cetak Sawah
Ketua DPD LIRA Banyuasin, Roni Paslah, langsung menyoroti lahan tidur Dusun 1 yang sangat luas. “Kalau tidak salah lebih kurang 1074 hektar. Sampai sekarang belum tersentuh proyek pertanian dari pemerintah, sementara masyarakat sangat berharap hadirnya pemerintah untuk melindungi lahan pertanian dari oknum-oknum mafia tanah dan kaum kapitalisme,” tegas Roni.
Mewakili warga Dusun 1, Roni menyatakan sikap. “Kami menolak keras PT RKS seperti yang diungkap Kepala Desa Nuhasim. Karena masyarakat maunya dapat cetak sawah dari pemerintah,” katanya.
Roni membongkar dugaan penghadangan. “Beberapa orang dari Dinas Pertanian Banyuasin mengaku ke saya, mereka tidak bisa memasukkan program cetak sawah ke tempat kamu itu Roni. Karena ada oknum yang melarang kami. Katanya ‘jangan di sana karena itu punya saya’. Makanya kami tidak berani,” ungkap Roni menirukan pejabat yang minta namanya dirahasiakan.
Tokoh masyarakat Masohan menegaskan Desa Tebing Abang mendapat Program Oplah dari Kementerian Pertanian. “Oplah ini untuk meningkatkan produktivitas lahan rawa jadi lahan produktif lewat perbaikan tata air dan infrastruktur. Ini hasil perjuangan Basri Umar dan Kades Nuhasim,” jelasnya.
“Oplah ini dari pembersihan lahan sampai tanam padi, semuanya dikerjakan TNI. Hasilnya balik ke yang punya lahan. Tiga tahun berturut-turut hasilnya untuk pemilik lahan,” tegas Masohan.
Masohan mengingatkan soal potensi konflik. “Kades harus pintar menyikapi ini jangan sampai menimbulkan komplik.”
Terkait PT RKS, Masohan menolak tegas. “Masalah izin prinsip perusahaan untuk di Dusun 1 setahu saya sebelum pilkada kemarin sudah dicabut. Saya tidak setuju kalau ada perusahaan yang mengolah lahan di Dusun 1. Yang kita harapkan itu program dari pemerintah: Oplah dan Cetak Sawah,” katanya.
Basri, koordinator program Oplah, mengungkap percakapannya dengan Kepala Dinas Pertanian Banyuasin. “Kemarin Kepala Dinas tanya saya, ‘Aman dak untuk bangun Oplah di Desa Tebing Abang?’ Saya jawab Aman Pak. Saya tanya balik, kenapa di desa kami Tebing Abang tidak pernah tersentuh pembangunan pertanian,” kata Basri.
Berdasarkan musyawarah, warga Dusun 1 Tebing Abang sepakat: 4 Keputusan Bulat Warga
1. Mendukung penuh dan menyambut baik Program Oplah yang meliputi Dusun 1 sampai Dusun 3 Desa Tebing Abang.
2. Meminta Pemkab Banyuasin segera realisasikan program Cetak Sawah di lahan tidur seluas lebih kurang 1074 hektar di Dusun 1.
3. Menolak tegas rencana pengelolaan lahan oleh PT RKS atau perusahaan lainnya.
4. Meminta pemerintah tindak tegas oknum yang menghambat masuknya program pembangunan serta melindungi hak-hak masyarakat atas tanahnya.
Acara ditutup setelah sesi tanya jawab. Turut hadir perangkat desa, anggota BPD, dan tokoh masyarakat.
Hingga berita ini ditayangkan, Bupati Banyuasin H Askolani, H. Arkoni, MD, manajemen PT RKS, dan Kepala Dinas Pertanian Banyuasin belum memberikan tanggapan. (HD).
















